Formulir Dukungan Lewat Jalur Independen Buat JWS Beredar di Sekolah
Ardy Tangkere

Astaga..! Formulir Dukungan Independen Ikut Beredar di Sekolah

Tondano, Fajarmanado.com – Heboh peredaran formulir dukungan independen untuk Pilkada 2018 dikabarkan masih juga beredar. Bahkan, kini dilaporkan telah merambah masuk sekolah-sekolah. Formulir molde B1.1-KWK itu sudah berisi nama tulisan tangan Jantje Wowiling Sajow (JWS), yang dikenal sebagai Bupati Minahasa periode 2013-2018.

“Waktu penerimaan rapor, kami disodori formulir untuk ditandatangani. Kami kaget ternyata formulir itu untuk dukungan terhadap Jantje Wowiling Sajow untuk maju Pilkada 2018 karena nama itu sudah tertulis di dalamnya,” ujar orang tua siswa kepada Fajarmanado.com di salahsatu kecamatan di Minahasa.

Formulir itu, katanya, diberikan oleh guru kepadanya. Tapi ia mengaku tidak semua orang tua yang disorori formulir tersebut. “Guru memang terkesan sangat berhati-hati ketika meminta saya menandatangani formulir itu,” ungkap sumber yang yang enggan dipublish namanya ini.

Seperti diketahui, formulir sejenis telah lama beredar di tengah-tengah masyarakat Minahasa. Kabar awal menyebar di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) kecamatan dan kelurahan, kemudian perangkat kelurahan dan perangkat desa. Formulir tersebut mengalir melalui pemerintah kecamatan.

Peredaran formulir tersebut pun santer disebut-sebut sarat intervensi. Setiap lurah dan hukum tua diwajibkan mengumpulkan 100 lembar formulir. “Kalau guru-guru kabarnya 10 lembar setiap guru,” ungkap sumber.

Kepala Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Kabupaten Minahasa, Arodi Tangkere ketika dikonfirmasi melalui jaringan teleponl, Selasa (20/06/2017), menyatakan tidak mengetahui kabar tersebut. Dengan nada datar, ia mengatakan akan mengecek kebenaran informasi tersebut.

Wakil Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Minahasa, Allan Parinusa mengaku telah mendengar pula kabar itu. “Ini sudah keterlaluan sekali. Masak lembaga pendidikan juga harus dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi oknum kepala daerah,” ketusnya.

Pengamat pendidikan ini menilai, langkah seperti ini jelas membuktikan JWS berusaha menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisi politiknya. Namun, ia tidak menampik bila hal itu tidak dilakukan JWS secara pribadi tapi melalui kaki tangan atau tim sukses bayangan yang sudah dibentuknya.

“Mau di kenamakan lagi dunia pendidikan kita kalau sudah dimanfaatkan seperti ini. Sekolah adalah institusi atau lembaga pembentuk karakter generasi muda yang beraklhak mulia, bukan tempat bagi pemegang kekuasaan untuk mencari dukungan politik praktis,” ujar Parinusa.

Parinusa menegaskan, hal ini harus disikapi dengan tegas supaya dampaknya tidak akan semakin parah.

“Kalau perlu, orang tua siswa usir saja orang yang menyodorkan formulir dukungan tersebut. Sekalipun itu adalah guru di sekolah. Karena sekolah adalah tempat pendidikan, bukan tempat berpolitik,” semburnya.

Ia pun mensinyalir jika gerakkan pengumpulan tanda tangan dukungan masyarakat melalui formulir B1.1-KWK tersebut dilakukan oleh tim sukses bayangan JWS untuk Pilkada Minahasa 2018. “Tidak rahasia lagi, oknum yang dikenal sebagai pengurus Relawan Minahasa Bersatu telah secara terang-terangan mengkampanyekan JWS pada forum-forum resmi pemerintah di tingkat kacamatan,” ujarnya.

 (fis/ely)