Langowan, Fajarmanado.com – Gereja sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia, harus menjadi pelopor utama dalam menjaga keutuhan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Hal itu disampaikan Pdt Roy Tamawaeol, ThM, mantan Wakil Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, Minggu (04/06/2017) malam di Gereja GMIM Sion Noongan, Wilayah Langowan Kelelondey, Minahasa.
“Akhir-akhir ini ada berbagai ancaman dari pihak-pihak atau kelompok tertentu untuk mengganti ideologi negara dengan ideologi agama tertentu. Hal ini sudah pasti akan menimbulkan perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan negara. Gereja harus proaktif ikut membantu pemerintah untuk menjaga dan memelihara kelestarian bangsa Indonesia,” ujar Pdt Roy Tamaweol, yang mandasarkan khotbanya dalam pembacaan Kitab Kisah Para Rasul 2:22-24.
Dalam khotbahnya pada acara Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) yang dilaksanakan Panitia Hari-hari Raya Gereja (HRG) yang disponsori Komisi Pemuda GMIM Sion Noongan itu, Pdt Roy Tamaweol mengungkapkan, dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia, umat Kristen telah ikut berjuang mendirikan bangsa ini. Di antara para founthing fathers (pendiri) itu, ada sejumlah tokoh-tokoh bangsa yang beragama Kristen, termasuk di dalamnya para pahlawan asal Minahasa.
Ia menambahkan, isi dan rumusan dalam Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, serta konsensus NKRI, semuanya tidak bertentangan dengan ajaran Kristen. “Isi dan makna dari 4 pilar kebangsaan itu, sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam Alkitab. Karena itu, sebagai gereja kita tidak perlu ragu untuk membela dan mendukung NKRI. Bahkan kita semua harus melawan segala bentuk separatisme yang hanya akan membawa kehancuran bagi bangsa Indonesia,” tuturnya lagi.
Menurut Pdt Tamaweol, dalam kaitan dengan Hari Ketuangan Roh Kudus atau Hari Pentakosta yang diperingati umat Kristen pada Minggu 4 Juni 2017, umat Kristen diminta untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus Kristus. “Karena setiap orang yang dipimpin dan diurapi dengan Roh Kudus akan selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang baik,” kata Pdt Tamaweol, yang kini sebagai staf pengajar di UKIT Tomohon.
Ia menambahkan, setiap orang Kristen yang dipimpin oleh Roh Kudus, akan selalu terdorong untuk bersaksi dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi saksi Kristus, untuk membawa kabar sukacita atau Injil, tidak melihat latar belakang apakah dia orang pandai atau orang bodoh, kaya atau miskin, besar atau kecil, orang terpandang atau tidak terpandang. Sama seperti Rasul Petrus, yang hanya seorang nelayan dan tidak berpendidikan, tapi bisa dipakai Tuhan untuk menjadi saksi. “Petrus yang pernah menyangkal Tuhan Yesus, setelah dibaptis dengan Roh Kudus, tampil bersemangat dengan khotbahnya yang terstruktur, sistematis, dan punya referensi yang kuat berkaitan dengan ucapan para nabi dalam Perjanjian Lama. Dan dari khotbanya ada sekitar 3000 orang bertobat,” tegasnya.
Jeffry Th. Pay

