Amurang, Fajarmanado.com – Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan (Pemkab Minsel) gerah dengan berbagai laporan kesemrawutan penataan terminal, parkir dan lalu lintas di Kota Amurang selama ini.
Dinas Perhubungan dituding tidak mampu menata, bahkan dilaporkan melakukan pembiaran. Untuk itu, Bupati Christiany Eugenia Paruntu, wakil bupati (Wabup) Franky Wongkar mengundang dan melakukan pertemuan dengan stakeholder terkait.
Dialog mengatasi masalah transportasi di Kota Amurang, digelar Pemkab Minsel di D’Teras 54 Amurang, Jumat (02/06/2017).
Selain dihadiri Dinas perhubungan (Dishub) Minsel, juga pengurus Organda, dan Satlantas Polres Minsel serta perwakilan para sopir. Tak pelak, puluhan Basis Sopir memberikan masukan untuk menata transportasi yang lebih baik dan menguntungkan semua pihak.
Para Basis Sopir yang berperan aktif memberikan masukan itu, antara lain, Steven Tumbelaka (Amurang-Manado), Ruddy Wurangian (Amurang-Tumpaan) dan Agus Sariowan (Amurang-Tawaang-Radey dan Tenga).
Berbagai usulan diterima langsung oleh Bupati Tetty Paruntu, Wabup Franky Donny Wongkar, Sekda Drs Danny Rindengan, Kasat Lantas AKP Ferdinand Runtu, Plt Kepala Dinas Perhubungan Verra Y Lasut dan insan Pers biro Minsel yang hadir pada acara dialogis itu.
Ruddy Wurangian,Wakil Ketua Organda Minsel menyatakan bahwa pihaknya belum puas dengan kebijakan penataan transportasi selama ini. Antara lain, keberadaan Terminal Amurang. Keberadaan dan kondisi ‘jantung’ angkutan umum ini tidak memenuhi syarat lagi.
Selain kondisinya yang tak layak lagi disebut terminial, posisinya pun tidak menguntungkan baik bagi pengusaha angkutan maupun calon penumpang. Tak heran, banyak sopir sudah enggan masuk terminal dan calon penumpang datang mencari tumpangan di terminal.
“Akibatnya, bermunculanlah terminal-terminal bayangan yang dinilai menguntungkan sopir dan calon penumpang. Makanya, harus dicarikan solusi bersama supaya menguntungkan atau memudahkan semua pihak,” ujar Wurangian.
Lain lagi kata Agus Sariowan, pengendara Amurang-Tawaang dan Tenga. Ia mengatakan, kebanyakan calon penumpang antardesa, kecamatan dan antarkota datang di Amurang hanya untuk bekerja dan berbelanja di kompleks pusat kota.
“Mereka merasa rugi biaya dan waktu untuk datang di terminal. Apalagi, taksi liar bebas berkeliaran mengangkut penumpang,” katanya, sambil mengharapkan supaya dilakukan pula penertiban terhadap taksi berplatdasar hitam, yang saya tidak mau sebut sebagai taksi liar,” papar Agus.
Menanggapi hal ini, Bupati Tetty mengaku memahami. Ia mengaharapkan agar para sopir bersabar. “Pemkab melalui Bapelitbang sedang mencari lokasi baru agar pasar dan terminal disatukan di satu lokasi,” katanya.
Langkah ini, lanjutnya, akan menguntungkan semua pihak. “Kalau berada di satu lokasi, warga yang datang di pasar hanya bisa jalan kami menuju terminal,” paparnya.
Sementara itu, Ketua Organda Minsel Johny Lumowa mengapresiasi rencana bupati Tetty tersebut. “Gagasan bupati itu adalah solusi terbaik, semoga saja menjadi kenyataan. Hal inilah yang memang menjadi keinginan masyarakat,” papar Lumowa.
Penulis : Andries Pattyranie
Editor : Herly Umbas

