Kawangkoan, Fajarmanado.com – Meski sukses, namun Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan, Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) untuk NKRI Harga Mati, ternyata menyisahkan kekecewan terhadap generasi muda setempat.
Pasalnya, Camat Kawangkoan Utara Drs Dovie Kuron MBA dan Camat Kawangkoan Barat Johnny Tendean tak menunjukkan batang hidung mereka.
“Jangankan ke dua camat itu, Sekcam atau yang mewakili pun tidak muncul sampai acara selesai. Jadi patut dipertanyakan,” tandas Sekretaris Generasi Penerus Minahasa Tengah (GP Minteng), Leslie Sarajar, SIP kepada Fajarmanado.com di Kawangkoan, Minggu (21/05/2017), malam tadi.
Seperti diberitakan, Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan digelar mulai pukul 15.00 Wita dan berakhir sekitar pukul 18.30 Wita, Sabtu (20/05/2017) di kompleks pusat Kota Kawangkoan.
Camat Drs Dovie Kuron MBA dan Camat Johnny Tendean tak terlihat, termasuk Sekcamnya masing-masing atau yang mewakili mereka. Yang tampak hanya Camat Kawangkoan Dra Meike Rantung, Kapolsek Iptu Dartha Daipaha dan Danramil 1302/03 Kapten Inf Juri S.
Sarayar menegaskan,Tou Kawangkoan, bukan hanya milik warga 6 kelurahan dan 4 desa di Kecamatan Kawangkoan tapi milik pula 4 kelurahan dan 26 desa di Kecamatan Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat.
Ia mengatakan, meski Kawangkoan resmi dimekarkan dan membentuk dua kecamatan baru pada 23 Juni 2010, yakni Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat, namun berdasarkan nafas pemekaran, tiga kecamatan Kawangkoan raya tetap dalam kesatuan sebagai Tou atau Orang Kawangkoan.
“Setahu saya, ketika Kawangkoan disosialisaikan untuk dimekarkan menjadi tiga kecamatan mulai September 2008, moto yang disampaikan panitia adalah Esa Cita Sumerar, Sumerar Cita Esa. Artinya, yang berarti, satu kita berpisah dalam administrasi pemerintahan tetapi kita tetap satu sebagai Tou Kawangkoan,” jelasnya.
Karena itulah, Sarajar menyesalkan ketidakhadiran oknum Camat Kawangkoan Utara dan Kawangkoan Barat pada acara Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan 2017.
“Saya yakin mereka masih sepakat berada dalam bingkai NKRI, tapi tidak pada sikap untuk tetap mempertahankan keutuhan Tou Kawangkoan sehingga tidak hadir dalam acara itu. Padahal, mereka masih mendapat jabatan camat karena perjuangan dan kesepakatan Tou Kawangkoan memekarkan Kawangkoan,” ujar alumni Fisip Unsrat Manado ini.
Ia juga mengungkapkan respons dan apresiasi kepada semua elemen Tou Kawangkoan yang hadir pada rangkaian acara yang dimeriahkan dengan pagelaran seni budaya, termasuk tari Kabasaran Eben Haezer Talikuran dan musik kolintang dan stand up komedi itu.
“Kami pula patut mengapresiasi kepada generasi muda penggagas dan pihak kepolisian dan TNI yang turut hadir dan mengamankan jalannya rangkaian Aksi Damai 205 Tou Kawangkoan ini,” paparnya.
Sarayar juga berharap momen ini tidak lantas menjadi anti klimaks akan bentuk kecintaan warga Kawangkoan terhadap keutuhan NKRI. Sebagai generasi muda, lanjutnya, generasi muda sebagai bagian dari generasi bangsa akan terus menjaga kedaulatan NKRI dengan mengisi dengan cara-cara yang positif.
“Sekali lagi, atas nama GP Minteng, kami siap terus mengawal setiap jengkal negara dan Kedaulatan NKRI. Sslamat Hari Kebangkitan Nasional,” tegasnya.
(ely)

