Dukung Wisata Kuliner, Kota Kawangkoan Terus Dipersolek
Keberadaan Terminal Kawangkoan, Minahasa, pasca dibangun Kantor UPT Terminal. Foto: 09/05/2017 (Heru)

Dukung Wisata Kuliner, Kota Kawangkoan Terus Dipersolek

Kawangkoan, Fajarmanado.com – Kota Kawangkoan, Minahasa, akan terus dipersolek agar benar-benar menjadi kota kuliner yang menunjang industri pariwisata Bukit Kasih Kanonang, Kuda Pacu dan wisata alam dan budaya lainnya.

Program ini terungkap pada forum Rapat Koordinasi Kecamatan (Rakorcam) Kawangkoan yang dipimpin Camat Dra Meyke Margo Rantung, didampingi Forkopimcam dan BKSAUA setempat di Aula Kelurahan Kinali, Selasa (09/05/2017).

Pada prinsipnya, kalangan tokoh masyarakat mengapresiasi langkah yang digagas dan ditempuh Camat mencat bangunan, yang dikenal sebagai shopping centre Kawangkoan di pusat kota.

Meski begitu, masih banyak spot yang dinilai patut mendapat perhatian ekstra cepat dalam mendukung terwujudnya Kawangkoan sebagai kota yang memesona. Antara lain, keberadaan Terung Paliusan di depan shopping centre, penataan terminal dan keberadaan tenda-tenda darurat sebagai tempat berjualan daging di sekitar terminal.

Mencermati aspirasi masyarakat tersebut, Camat Rantung menegaskan akan membongkar bangunan permanen Terung Paliusan. Selain mengganggu kelancaran mobilitas arus lalu lintas dan mempersempit lahan parkir, juga menyulitkan menata pusat kota.

“Nanti kita bicarakan lebih lanjut, mana yang terbaik. Dikurangi saja atau dibongkar total. Semua usul yang masuk akan kita pertimbangkan, mana yang terbaik agar pusat kota mudah ditata menjadi lebih menarik lagi,” ujar mantan Camat Tompaso Barat ini.

Soal penataan pelataran terminal, Rantung mengatakan, telah dibicarakan dengan Dinas Perhubungan Sulut. “Saya sudah bicara dengan Dinas Perhubungan Sulut. Mereka berjanji akan meninjau dalam minggu ini, untuk menentukan langkah yang akan mereka tempuh menatanya,” ungkap Rantung.

Keberadaan Terminal Kawangkoan pasca dibangunkan kantor dan tempat parkir kendaraan angkutan umum jadwal berangkat pada akhir tahun 2016, terkesan terbengkalai.

Material sisa bangunan yang dibongkar hanya dibiarkan menumpuk tak beraturan begitu saja. Ratusan lembar seng yang digunakan sebagai pagar melingkar saat proyek berbandrol Rp.620 juta itu dikerjakan, raib entah kemana. Padahal, material atap tersebut adalah hasil swadaya para sopir.

Selain para lurah dan hukum tua, juga hadir Ketua BKSAUA Kawangkoan Pdt Helly Meily Pontoh, STh, Wakapolsek Aiptu Anthon Tumbelaka, Gbl Joike Rambitan, STh, Gbl Simon Petrus Ramapolii, pengurus LPMK, BPD serta para tokoh masyarakat setempat.

(ely)