JAKARTA, Fajarmanado.com – Pdt DR John Weol, akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Majelis Pusat (MP) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) dalam Musyawarah Besar ke-33 di Bandung, Kamis (30/03) dinihari. Pendeta John Weol yang lahir dan dibesarkan di Noongan, Langowan, memperoleh 319 suara, dan mengalahkan dua kandidat lainnya, yaitu Pdt DR MD Wakary yang memperoleh 300 suara, dan Pdt Hendrik Runtukahu dengan 153 suara.
MUBES GPdI ke-33 yang digelar di Convention Center Bandung dan dihadiri oleh ratusan pendeta GPdI se Indonesia itu, dibuka oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifudin dan Ketua Umum GPdI Pdt. DR. M.D. Wakkary.
Dengan terpilihnya Pdt John Weol disambut baik oleh sejumlah pendeta GPdI. Pdt Fanny Potabuga yang melayani jemaat GPdI Rajawali Kanonang, kepada Fajarmanado.com mengungkapkan, apa yang diduga sebelumnya, memang terjadi. Karena sebelum ini nama John Weol sudah santer disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menggantikan Pdt Wakary.
Menurut Pdt Fanny, sesuai penuturan orang tuanya, keluarga Pdt John Weol sewaktu masih tinggal di Noongan, hidupnya sederhana. “Pdt John adalah anak dari keluarga Weol-Polandos. Sewaktu tinggal di Noongan, Ayahnya biasa dipanggil Opa Pres dan mamanya dipanggil Oma Lin. Dari Noongan mereka kemudian pindah ke Rasi, Ratahan. Dan akhirnya melalangbuana di beberapa tempat, dan terakhir Pdt John Weol melayani jemaat GPdI di Jakarta,” jelas Pdt Fanny.
Dengan terpilihnya Pdt John Weol, sebagai Gembala dan atas nama jemaat GPdI Rajawali Kanonang, ia mengucapkan selamat atas terpilihnya Pdt Dr John Weol sebagai Ketua Umum Majelis Pusat GPdI. “Kami menantikan perubahan dalam tubuh GPdI ke arah yang lebih baik, lebih profesional, lebih terhormat sehingga di tempat-tempat tertentu tidak lagi menjadi bahan cemoohan di tengah ladang pelayanan,” ujar Pdt Fanny.
Kebanggan yang sama juga disampaikan Pdt Michael Wahido, Gembala Jemaat GPdI Noongan, yang juga ikut serta dalam Mubes GPdI tersebut. “Kami ikut bangga dan mengucapkan selamat kepada Pdt John Weol. Apalagi Pdt John Weol adalah Putra Noongan.”
Pdt John Weol yang pernah memegang jabatan Ketua Majelis Daerah (MD) Jakarta selama empat periode, sebelum terpilih, kepada salah satu media (warningtime.com), mengungkapkan,” Jika saya dipercaya menjadi Ketua Majelis Pusat (MP), saya akan menciptakan keseimbangan dan rasionalisasi jumlah pemimpin di MP dan gereja lokal dari skala perbandingan. Yang sekarang masih 35 persen terwakili.”
Pdt Weol menambahkan, harus diakui meski gereja GPdI berjumlah besar tapi paling banyak ada di pedesaan. Ini karena pola pendidikan sekolah dan pola pembinaan di sekolah Alkitab GPdI yang memiliki 25 Sekolah Alkitab dan 10 Sekolah Teologia. Persoalannya dengan banyaknya gembala berkaitan gereja lokal, rupanya menimbulkan persoalan sendiri yakni masalah-masalah kebutuhan sosial, dari gembala di pedesaan termasuk pembiayaan sarana ibadah mereka harus berjuang sendiri.
“Saya kira masalah itu penting sekali. Sebab jangan kaget, pendeta GPdI itu melanglang buana kemana-mana membawa proposal karena jemaat mereka tidak sanggup bangun gerejanya. Memang kami yang ada di kota sudah memiliki kepedulian untuk berbagi meski masih sifatnya individu, tidak by sistem. Nah ke depan, baiknya kalau bantuan itu dilembagakan menjadi program dari MP. MP secara serius menangani pendeta pedesaan dan penyediaan sarana sosial gedung gereja, sehingga mereka tidak berkeliaran lagi bawa proposal. Itu tangung jawab MP GPDI ke depan menyediakan dana,” tegasnya.
Selain itu, tambahnya, nanti dalam komposisi personalia pengurus pusat akan dibentuk suatu badan baru yakni Badan Pengawasan Usaha Milik Gereja (BPUMG). Tugasnya untuk memberi modal usaha dan mengawasi. Usaha dalam bentuk PT maupun koperasi ini nanti dijalankan oleh profesional di bidangnya. Tentu saja bentuk usaha yang cocok dan tidak menyalahi firman Allah dan tentu menghasilkan.
Jeffry Th. Pay

