Tompaso, Fajarmanado.com – Johny Rori, pria buron yang kabur dari tahanan Polsek Kawangkoan, Minahasa ini dikenal sebagai sosok pendiam. Pria 33 tahun ini, di kampung asalnya, Desa Kamanga Dua Kecamatan Tompaso, Minahasa, sejak kecil dikenal sudah terbiasa mencuri.
John, sapaan akrab anak ke tiga dari lima bersaudara ini, adalah sosok yang terkesan lemah mental sewaktu masih kanak-kanak. Jangankan berkomunikasi, gaya berjalannya pun tak seperti layaknya orang normal, kepala dan tatapannya agak miring. Pun, tak banyak bertutur, pasif.
John terkesan lugu. Dia hanya bicara seadanya kalau pun ada yang bertanya. Tak ada disembunyikan. Setiap pertanyaan dijawabnya polos. Semisal, ketika Fajarmanado.com bertanya, kenapa mencuri. “Tidak tau, tiba-tiba pikiran (mencuri) itu muncul,” ujarnya polos.
Pria yang mengaku hanya duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD) di Tompaso ini, pun dengan enteng menjawab setiap pertanyaan hingga dia nekad menyatroni SMK Kristen Kawangkoan pada 14 Maret 2014, tengah malam, sampai kemudian tertangkap tangan.
John mengisahkan, ketika melintas dengan sepeda motor, tiba-tiba melirik ke arah sekolah milik yayasan persekolahan GMIM, yang bersebrangan dengan Monumen Lapian-Taulu Kawangkoan di wilayah Kelurahan Sendangan Selatan. Sepeda motor diparkir di depan monomen, lalu dia menuju dan mengamati bagian dalam sekolah itu.
“Apakah Anda tahu di sekolah itu ada komputer?” Dengan lugu, John pun menjawab, “Setahu saya, setiap sekolah pasti ada komputer,” katanya. Tapi, ia mengaku belum tahu persis berapa jumlah dan terletak di mana barang elektronik itu.
“Kebetulan, dari luar (ada lampu) terang. Waktu saya lihat ke dalam ruangan, ada pantulan cahaya dari barang-barang di dalam, makanya saya mencoba masuk,” jelasnya, disamping Gil, rekan pelariannya yang telah menyerahkan diri pada Kamis (23/03), pagi lalu.
John pun mengaku mencoba berjalan ke bagian belakang. Di sana ada toilet. “Waktu saya dorong pintunya, langsung terbuka. Saya masuk,” ujarnya.
Di dalam toilet, John menengadah dan memanjat lalu membobol langit-langit. Setelah terbuka, dia pun naik dan merangkak di atas loteng, kemudian turun setelah membobol salahsatu bagian plafon di atas ruangan komputer.
Setelah membawa beberapa perangkat komputer yang telah dibungkus dalam ikatan gordeng jendela ke luar ruangan, sambil menggantungkan tas berisi laptop dan dua kamera digital di leher, dia kembali masuk, mengambil dan meletakkan seperangkat komputer lainnya di samping jendela yang telah dibukanya.
Sebelum ke luar kembali, John mengaku mendengar ada langkah kaki dan suara orang di samping sekolah. Dia pun kembali memanjat dan naik ke atas loteng.
Tak berselang lama, munculah Kapolsek Iptu Dartha Bambang Daipaha bersama tim Kaki Seribu Polsek Kawangkoan, akhirnya membuat dia tak berkutik dan pasrah digelandang ke Mapolsek, tengah malam itu juga. Namun, sepekan kemudian, 22 Maret lalu, John melarikan diri melalui ventilasi tahanan yang lapuk.
Di mata warga Tompaso, John telah dikenal sebagai sosok pria ‘misterius’ yang pendiam namun ‘hobi mencuri’. Setiap ada peristiwa kehilangan apa pun juga, apalagi di warung-warung, tudingan langsung mengarah kepada pria yang dikenal ‘kurang bergaul’ ini.
Waka Polsek Kawangkoan Iptu Anthon Tumbelaka mengaku pernah menangani kasus pencurian John sebagai tersangka pelaku di Tompaso. “Dia memang sudah sangat dikenal di (Tompaso) sana. Kalau ada pencurian, orang langsung mengarahkan dan menuding dialah pelakunya,” ujarnya.
John sendiri tidak menampik hal ini. “Saya tidak tahu kenapa pikiran jahat saya (mencuri) selalu saja datang tiba-tiba. Saya tidak sadar,” ketusnya.
John mengaku sudah lima kali divonis hakim karena mencuri, selain kasus ini. Tiga kali mencuri dengan membongkar warung, dan masing-masing sekali mencuri uang dan emas di rumah penduduk, semuanya di Kecamatan Tompaso.
Untuk itu, bujangan 33 tahun ini menolak kalau pencurian elektronik di Kantor Camat Tompaso dan SLA Tompaso Dua adalah perbuatannya. “kalau itu bukan saya. Sungguh saya tidak mencuri di Kantor Camat dan SLA,” tukasnya.
Apakah Anda dibekali ilmu dalam beraksi, dengan sigap John berkata, “Saya tidak pegang apa-apa. Saya tak tahu kenapa tiba-tiba pikiran jahat saya (sering) muncul. Kalau ilmu, ada orang kampung yang sudah dikenal punya ilmu. Ilmunya memang hebat,” ujarnya polos.
Sampai malam ini, polisi masih berusaha mengendus keberadaan pria berotot kekar ini. John diyakini tidak berada jauh, selain sembunyi di perkebunan dan atau hanya di dekat pemukiman penduduk wilayah Kecamatan Tompaso.
“Saya berharap, keluarganya membantu membujuk dan menyerahkannya. Itu lebih baik bagi dia ketimbang diburu polisi, bisa saja berakibat buruk bagi tersangka,” ujar Kapolsek Iptu Dartha Bambang Daipaha.
Kapolres Minahasa AKBP Syamsubair, SIK mengaku belum berhasil menangkap kembali John. “Masih dilakukan pengejaran,” ungkapnya singkat kepada Fajarmanado.com, Selasa (28/03) malam ini.
(fiser/ely)

