Humas Polri: Berita Penjualan Organ Tubuh adalah Hoax
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul. Foto: Ist

Humas Polri: Berita Penjualan Organ Tubuh adalah Hoax

Jakarta, Fajarmanado.com – Kabar soal penculikan dan sindikat penjualan organ tubuh anak-anak yang merebak dalam dua pekan terakhir, dibantah Divisi Penerangan Umum Polri.

Bermula dari berita utama sebuah harian lokal di Sulawesi Utara (Sulut) soal penculikan dan penjualan anak seharga Rp 5 miliar, di sejumlah daerah, pemberitaan itu diprotes lantaran tidak adanya data pendukung dan penegasan kejadian penculikan.

Merespons keresahan masyarakat, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri melalui akun resminya di Instagram menyatakan bahwa pemberitaan mengenai penjualan organ tubuh anak-anak adalah bohong.

“Kepolisian pastikan informasi penculikan dan penjualan organ tubuh anak-anak yang viral di media sosial adalah hoax. Kapolri Jenderal Tito Karnavian meminta masyarakat untuk tidak termakan isu dan resah terhadap maraknya kabar penculikan anak dan penjualan organ tubuh di media sosial,” demikian imbauan yang ditulis melalui postingan di Instagram, seperti dilansir dari laman Kompas.com, Sabtu (25/03/2017).

Namun demikian, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul menginstruksikan kepolisian di daerah melakukan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat soal isu penculikan anak.

Instruksi itu disampaikan untuk mengantisipasi kasus penculikan anak-anak dan mencegah semakin meluasnya kabar bohong soal penjualan organ tubuh anak-anak di media sosial belakangan ini.

“Soal info-info adanya penculikan, petugas yang berada di wilayah-wilayah, kecamatan dan kabupaten kota/provinsi, Polda, Polres, Polsek, sekarang (harus) mendatangi sekolah-sekolah untuk sampaikan imbauan-imbauan agar jangan sampai terjadi korban penculikan,” ujar Martinus seusai mengikuti diskusi di bilangan Cikini, Menteng, Jakarta, Sabtu (25/03), siang tadi.

Selain mendatangi sekolah, sosialisasi dilakukan dengan menyebarkan pamflet untuk menginformasikan cara menghindari penculikan.

Di samping itu, katanya, kepolisian juga terus melakukan penelusuran di dunia maya untuk menemukan pihak-pihak yang terlibat menyebarkan berita bohong mengenai penjualan organ tubuh anak sebagaimana kabar yang beredar saat ini.

“Kami juga lakukan patroli siber untuk mengetahui siapa yang bermain dalam pembuatan konten-konten hoax (bohong) tersebut,” kata dia.

Menurut Martinus, beberapa waktu belakangan ada laporan terkait penculikan yang masuk ke polisi. Namun setelah ditelusuri, laporan itu benar.

“Karena ada yang memang salah (laporannya), ada yang dibawa temannya, ada yang tidak (belum) pulang,” kata Martinus.

(ely)