Harga Daging Babi Sulut Jatuh, Peternak Bikin Petisi
PETISI PETERNAK: Aliansi peternak babi rumahan menyatakan terpukul dengan semakin merosotnya harga jual babi panen dan tinggal berkisar Rp 20.000 – Rp 24.000 per Kg. Sementara harga jual daging babi di pasar-pasar tradisional relatif stabil, sedangkan harga pakan ternak terus melambung. Mereka pun membawa petisi kepada DPRD dan Pemprov Sulut, Rabu (22/2), siang ini.

Harga Daging Babi Sulut Jatuh, Peternak Bikin Petisi

Langowan, Fajarmanado.com – Harga ternak babi di pasar di Sulut, merosot tajam. Di tangan peternak, harga babi tinggal berkisar Rp. 20.000 hingga 24.000 per kilogram (kg), sementara harga daging babi di pasar-pasar tradisional di Minahasa, berkisar Rp 35.000 hingga 45.000 per Kg. Sebaliknya harga pakan ternak terus melambung.

Mencermati harga babi yang terus menurun, para peternak mendesak pemerintah Provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota di Sulut untuk bisa membantu para peternak dalam mengendalikan harga tersebut.

Donny Rumagit, peternak babi asal Walewangko, Langowan Barat, Minahasa kepada Fajarmanado.com, Rabu (22/02) mengungkapkan, kondisi ini sangat memukul ekonomi rakyat Sulut yang sebagian besar adalah peternak babi.

“Oleh karena itu maka kami aliansi peternak babi rumahan Sulut membuat petisi untuk mendesak pemerintah daerah di Sulut agar bisa segera mengatasi masalah ini,” ujar Rumagit.

Petisi itu, jelasnya, pertama, menutup perusahaan yang beternak di Sulut karena ada beberapa perusahaan besar bukan hanya menjual pakan, tapi sudah ikut beternak dan hasil produksinya ke pasar lokal. Inilah salah satu yg menyebabkan harga babi menurun.

Kedua, mendesak pemerintah untuk mencabut SK menteri tentang Hog Cholera yang dari tahun 1998 diterbitkan, sehingga menyebabkan daging babi tidak boleh dipasarkan di luar daerah.

“Petisi ini akan kami kirimkan kepada Dewan Provinsi Sulut dan Pemerintah Provinsi Sulut untuk sekiranya dapat mengagendakan hearing dan rapat bersama para peternak,” tuturnya, seraya menambahkan, “Saat ini kami sedang menuju ke Dewan Provinsi untuk menyampaikan aspirasi peternak babi.”

Hal senada juga disampaikan oleh Hanny Soriton, peternak babi asal Noongan. Menurut Soriton, turunnya harga daging babi, sangat memukul para peternak. Karena di satu sisi, harga pembelian di tingkat peternak menurun, di sisi lain daging babi eceran di pasar-pasar tradisional tetap stabil dan harga pakan ternak masih tetap mahal.

“Kalau mau dihitung dengan waktu kerja dalam pemeliharaan, kami merasa sangat rugi. Yang untung banyak pengusaha pakan ternak dan pengecer daging babi,” ujarnya.

(jeffry)