Manado, Fajarmanado.com – Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyatakan booming turis Tiongkok ke Sulawesi Utara, ternyata belum memberikan keuntungan yang signifikan terhadap usaha restoran di daerah ini.
Ketua PHRI Sulut, Johny Lieke, mengungkapkan masuknya puluhan ribu wisatawan mancanegara dari Tiongkok ke Sulawesi Utara sejak paruh ketiga tahun lalu hingga menjelang triwulan pertama 2017 ini belum menguntungkan pihaknya.
Dia mengakui, dari sisi okupansi, membludaknya turis dari Tiongkok itu memang mampu memberikan keuntungan bagi sektor perhotelan.
“Kedatangan mereka secara otomatis langsung terserap oleh hotel-hotel yang ada di daerah ini, baik kelas bintang maupun melati. Namun dari sektor lain, hal tersebut belum signifikan,” ungkapnya di sela-sela kegiatan olah raga yang diselenggaraka di salah satu kawasan pusat perbelanjaan di Manado, Sabtu (19/02) pagi.
Menu restoran kita kebanyakan lebih pada gaya Eropa atau Amerika, sehingga kurang diminati turis Tiongkok, tambahnya.
Menurut Johny Lieke yang juga pemilik usaha perhotelan Plaza Grup ini, Manado ataupun Sulawesi Utara tidak perlu malu meniri apa yang dilakukan otoritas penyelenggara parisiwata di Penang, Malaysia.
Di negeri Jiran itu, para pelaku usaha pariwisata mampu menyiapkan paket wisata terpadu, sehingga dari manapun wisatawan yang datang, pasti akan mendapatkan apa yang diinginkan.
“Kita di sini terkesan masih mencari bentuk, makanya terdapat cukup banyak turis yang bingung,” ujarnya.
Lieke mengakui, bahasa masih menjadi salah satu kendala terbesar, karena meski ada penerjemah, namun kebanyakan di datangkan dari luar daerah.
“Penerjemah hanya didatangkan dari luar daerah, sehingga belum menguasai kondisi daerah ini, baik budaya maupun kulinernya,” jelasnya pria berkacamata yang kala itu didampingi istrinya.
Di sisi lain, lanjutnya, para pelaku dunia usaha di Manado ataupun daerah lainnya, belum memahami karakteristik turisnya.
Lieke berharap seluruh stakeholders pariwisata di Sulawesi Utara dapat segera mengantisipasi berbagai kekurangan yang ada agar booming turis Tiongkok ini dapat di ikuti Negara-negara lainnya dan tidak akan menjadi boomerang di kemudian hari.
“Karena, jika mereka mendapatkan kesan kurang baik di sini, justru karena pelayanan kita yang masih kurang maksimal, akan menjadi promosi negatif bagi dunia pariwisata kita,” kuncinya.
(dki)

