Liandok, Fajarmanado.com – Desa Liandok Kecamatan Tompasobaru Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) kini tidak lagi terisolir. Namun meski telah memiliki akses jalan representatif, desa ini belum terjangkau dengan jaringan telekomunikasi.
“Di desa kami belum terjangkau dengan jaringan telekomunikasi. Jangankan Telkom, jaringan telepon selular pun masih sulit diterima di desa kami,” ungkap Hukum Tua Liandok Masye Potalangi kepada Fajarmanado.com.
Berbincang di rumahnya baru-baru ini, Pontalangi mengatakan kesiapannya menyediakan lahan sebagai tempat pendirian tower provider mana pun.
“Kalau ada perusahaan yang mau membangun towernya di wilayah ini saya siapkan lahan,” tandasnya.
Potalangi menyatakan bahwa belum ada jaringan telepon yang bisa menjangkau dengan baik di wilayah desanya, berbeda dengan desa-desa lain di Kecamatan Tompasobaru dan sekitarnya.
“Demi memenuhi keinginan masyarakat agar semakin cepat memperoleh akses informasi langsung, saya siap menyediakan lahan apabila ada privider yang ingin berinvestasi membangun tower di desa kami,” tegasnya.
Potalangi mengaku sedih mendengar keluhan warganya yang kesulitan berkomunikasi dengan para kerabat, sahabat dan rekan bisnis yang tinggal di luar desa.
“Jujur saja, saya sendiri kesulitan berkonsultasi dengan jajaran Pemkab Minsel, apalagi bupati melalui telepon. Makanya, saya akan siapkan lahan apabila ada provider telekomunikasi yang berniat membangun tower di desa ini,” ungkapnya lagi.
Pontalangi mengakui jika pada prinsipnya Desa Liandok tidak lagi terisolir. Ruas jalan akses masuk masuk desanya telah dibangun Bupati Christiany Eugenia Paruntu dengan kwalitas hotmix alias aspal beton.
“Jalan yang belum diaspal tinggal yang menuju ke lokasi transmigran. Semoga segera dibangun dengan dana APBD 2017 mendatang,” kata isteri John Pelleng, mantan Hukum Tua Liandok ini.
Meski demikian, ia mengatakan bahwa Dana Desa (Dandes) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2017 mendatang, sebagiannya akan dialokasikan untuk pembangunan jalan menuju wilayah transmigran tersebut.
“Ada beberapa alternatif pemanfaatan ADD dan Dandes tahun depan. Semoga saja, Pemkab Minsel mengalokasikan anggaran untuk membangun jalan menuju daerah transmigrasi itu supaya ADD dan Dandes bisa kami gunakan untuk membangun dan mewujudkan program prioritas lain di desa,” ujarnya.
(andries)

