WHO: Daging Olahan Picu Kanker Usus Besar
Salahsatu jenis daging merah (Foto: Ist)

WHO: Daging Olahan Picu Kanker Usus Besar

FAJARMANADO.com— Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mengatakan sosis, bacon dan jenis daging olahan lainnya sebagai pemicu kanker. International Agency for Research on Cancer (IARC),  menetapkan adanya hubungan antara konsumsi daging olahan dengan risiko kanker kolorektal atau usus besar. Daging olahan masuk kelompok 1 daftar klasifikasi karsinogen.

IARC,  sebuah badan di bawah WHO ini,  memperkirakan tiap 50 gram daging olahan yang dikonsumsi setiap hari dapat meningkatkan risiko kanker usus hingga 18 persen. Dikutip dari Reuters, akhir Oktober 2015, IARC menyebutkan bahwa 50 gram daging olahan setara dengan satu hot dog atau 2 slices bacon.

Daging sapi, kambing, dan babi sering disebut sebagai jenis daging merah karena warnanya yang lebih gelap dibandingkan daging, seperti ikan atau unggas. Hal ini dikarenakan daging lebih banyak memiliki hemoglobin dan myoglobin yang membuat warna darah merah.

Ada yang berpendapat dan didukung studi sebelumnya bahwa mengonsumsi banyak daging merah dan olahannya dapat meningkatkan risiko kanker. Namun sementara itu ada juga yang berpendapat bahwa kandungan nutrisi dari daging merah tak kalah baiknya sehingga jangan ditinggalkan.

Daging merah diketahui merupakan sumber protein, vitamin B, dan mineral yang baik seperti besi serta seng.

Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) juga mendorong masyarakat Indonesia untuk mengurangi konsumsi daging merah. Dengan kondisi harga daging sapi yang bisa dibilang tak murah, dr Ari mendukung orang-orang agar beraling mengonsumsi daging putih.

“Ini kesempatan untuk mengurangi konsumsi red meat. Kalau perlu kesempatan Jokowi mempromosikan karena daging merah untuk konsumsi tidak sehat,” pungkas dr Ari.

Daging olahan disebut punya cukup bukti untuk disebut ‘karsinogen (penyebab kanker) pada manusia’. Masuknya daging olahan ke dalam klasifikasi tersebut sekaligus menyejajarkannya dengan rokok, radiasi sinar matahari, asbestos, dan minuman beralkohol.

Daging sapi, kambing, dan babi sering disebut sebagai jenis daging merah karena warnanya yang lebih gelap dibandingkan daging seperti ikan atau unggas. Hal ini dikarenakan daging lebih banyak memiliki hemoglobin dan myoglobin yang membuat warna darah merah.

Ada yang berpendapat dan didukung studi sebelumnya bahwa mengonsumsi banyak daging merah dan olahannya dapat meningkatkan risiko kanker. Namun sementara itu ada juga yang berpendapat bahwa kandungan nutrisi dari daging merah tak kalah baiknya sehingga jangan ditinggalkan.

Daging merah diketahui merupakan sumber protein, vitamin B, dan mineral yang baik seperti besi serta seng.

(dtc/heru)